..:: Jalan Setapak ::..
perhatikan setiap langkahmu, terjagalah atas peristiwa dihadapanmu, jalan setapak hidupmu kan kau lalui
Antara Realitas dan Kesadaran

Menurut teori Fisika Quantum, sebutir atom 99,9% terdiri dari Ruang Kosong. Bila diibaratkan sebuah lapangan sepakbola maka sebutir atom terdiri dari partikel-partikel inti atom atau nukleus (Proton dan Neutron) sebesar sebiji kecil kacang hijau di tengah lapangan bola tadi lalu dikitari dengan kecepatan cahaya oleh elektron yang memutari lingkaran luar lapangan bola tadi.
Jadi dari sebutir atom sama sekali tidak ada kepadatan. Yang ada hanya getaran energi frekwensi elektron atau gelombang energi yang berputar dalam sebutir atom. Sedangkan Elektron dan Neutron itu juga bukanlah kepadatan tetapi getaran energi frekwensi. Atom tadi terdiri lagi dari partikel sub atom yaitu Elektron, Proton dan Neutron. Yang kemudian terdiri lagi dari Quantum, Quarks, Leptons, Positron bagian yang terkecil dari sebutir atom atau seluruh benda yang ada di alam semesta.
Kumpulan atom menjadi molekul dan lalu membentuk sel lalu materi yang bisa dilihat, didengar, diraba/ disentuh, dikecap dan dicium oleh panca indera kita. Karena keterbatasan kemampuan indera maka kita melihat seolah-olah benda tersebut padat. Padahal yang terjadi ialah benturan elektron dari sel-sel jari kita yang menyentuh kumpulan/awan elektron-elektron benda “padat” tersebut. Jadi secara hakiki semua benda yang terlihat atau dapat di tangkap oleh panca indera kita adalah benda yang semu tanpa kepadatan sama sekali. Itulah realitas ilmiah tentang benda yang ada diseluruh universal.
Bila kesadaran kita menyadari akan benda-benda atau realitas disekitar kita sebagaimana hakikat sebenarnya, maka kita akan lebih bersyukur akan keajaiban alam semesta yang diciptakan dan diatur dengan maha teliti dengan hukum-hukum tertentu (seperti gravitasi dan hukum fisika lainnya) oleh Allah SWT.
Ayam
Surat Fush-Shilat ayat ke 53 (QS 41:53) berbunyi:
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami pada segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri,…”
Kemudian pada surat Adz Dzariyaat ayat 20-21 QS 51:20-21):
“dan di Bumi ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi yang yakin. Dan (juga) pada diri kamu sendiri, maka apakah kamu tidak memperhatikan.”
Dan surat Ar Ra’du 11 (QS 13:11):
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”
Ringkasnya, rangkaian ayat-ayat diatas dapat disimpulkan sebagai suatu petunjuk,
“Wahai manusia, kenalilah dirimu sendiri, kenalilah alammu, kenalilah Tuhanmu, kenalilah masamu dan masyarakat serta sejarahmu supaya engkau mengenali siapakah dirimu itu, darimanakah engkau berasal, mau kemanakah engkau akhirnya, dan ngapain di dunia ini.”
Intuisi
Intuisi muncul secara tiba-tiba, pengambilan keputusan dari analisa yang tidak didasarkan perhitungan, melainkan peRASAan. Intuisi bisa datang dengan sendirinya, tanpa ada alasan yang kuat guna mendukungnya. Intuisi lebih cenderung tidak berdasarkan fakta, melainkan berdasarkan apa yang dirasakan dari sebuah subyek atau obyek.
Orang beruntung ternyata lebih mengandalkan intuisi daripada logika. Keputusan-keputusan penting yang dilakukan orang beruntung ternyata sebagian besar dilakukan atas bisikan ‘hati nurani’ (intuisi) daripada otak-atik angka yang canggih. Angka-angka akan sangat membantu, tapi keputusan final umumnya muncul dari perasaan
Manusia terkadang merasa bisikan “hati nurani” (intuisi) sulit untuk didapat atau didengar, karena otak dibuat pusing dengan penalaran yang tak berkesudahan
Mengandalkan Intuisi semata juga dapat menjebak. Melakukan langkah-langkah tanpa bermain Logika sama saja bunuh diri. Yang diperlukan adalah mensinergikan antara Intuisi dan Logika.
Pada dasarnya Intuisi yang baik lahir dari kepingan-kepingan Logika. Logika didasari oleh pemikiran kemudian menyentuh hati atau perasaan dalam pengambilan keputusan, kemudian yang berperan adalah Intuisi.


