..:: Jalan Setapak ::..

perhatikan setiap langkahmu, terjagalah atas peristiwa dihadapanmu, jalan setapak hidupmu kan kau lalui

Dec 29
“Hakikat-hakikat sufistik yang menyingkapkan hubungan manusia dengan Tuhannya pada akhirnya memang seringkali membingungkan kalangan yang awam dan tidak teliti. Kendati seringkali disalahpahami sebagai hulul (penyuntikan) atau inkarnasi dalam ungkapan-ungkapan verbal al-Hallaj (ana al- Haqq, Akulah Kebenaran) maupun Abu Yazid (Subhanii, Mahasuci Aku), maka sebenarnya tidak perlu terjadi kesalahpahaman dari apa yang diungkapkan oleh kedua sufi tersebut. Pengertian hulul atau inkarnasi sendiri jelas-jelas sebenarnya tidak memadai, atau bahkan sebenarnya salah sama sekali, untuk menjelaskan ungkapan-ungkapan dzauqi sufistik dalam tingkatan fana dan baqa. Karena sejatinya, apa yang dimaksud oleh al-Hallaj maupun Abu Yazid memang bukan hulul atau inkarnasi, tetapi suatu pemurnian (purification) dimana akhlak manusia yang fana dan terbaqakan didalam-Nya termurnikan adalah dia yang kembali menyadari kehambaan dirinya dihadapan Allah SWT Yang maha Esa.”

Dec 22

Imagining the Tenth Dimension


Dec 18
Sungai Musi, Palembang - Sumatera Selatan

Sungai Musi, Palembang - Sumatera Selatan


Dec 16
“Serat Jatimurti” as a systematic philosophy with a formal object: ontology. The first “Serat Jatimurti” maintains unity of beings autonomous. Individual beings is not it each him, but an elementary unity and binding in unity. Second, metaphysics of “Serat Jatimurti” have jetty at real world, but in multifarious of being there one ground of being as a being, that is Pure Reality was so-called “Kahanan jati” (Real Being). Third, the Real Being is a fundamental idea of metaphysics of “Serat Jatimurti”. All their metaphysics are instructed and concentrated on the Real Being: there is nothing, only Allah, that is being which is in fact referred as ‘Kahanan Jati”. Fourth, “Serat Jatimurti” differentiates the existence into four strata of being that is “garis, lumah, jirim and kajaten”. The four strata of being are ontological structure of entire reality that is one unity and a bundle of relationship. To comprehend it, hence, human should have dimensions of the four strata. Integration of the fourdimensions in awareness, hence, human will be able to catch the overall reality. In this case there is attachment between human being and fact, subject-object.”

Dec 14
“Janganlah sembunyi dibalik Tuhan kalau sebab musababnya justru karena kebodohan, ketololan, dan kedunguanmu sendiri…” ~Toto Rahardjo~

“Janganlah sembunyi dibalik Tuhan kalau sebab musababnya justru karena kebodohan, ketololan, dan kedunguanmu sendiri…” ~Toto Rahardjo~


Dec 13
“Our reflection maybe we never realize that everytime we look ourself in the mirror, we look at that person, the same person we thanks to, we pray to, or maybe the same person who we blame for every mistake that happened in our life, but we never do really realize the same person who we look ourself in the mirror is the reflection Him, the one and only our God who created us using His own image”

Dec 12
“Kita adalah burung, dan alam semesta adalah kandangnya. Maka yang menciptakan, memelihara dan mendidik kita sebagai Rabb Al-Aalamin mestinya menentukan ukuran dan ketentuan manusia dahulu sebelum kandangnya dibuat. Sehingga, alam semesta yang kita diami dan dianggap oleh kita sangat luas sebenarnya diciptakan berdasarkan spesifikasi kita sebagai manusia yang menjadi citra kesempurnaan Allah sebagai Rabb Al-Aalamin. Allah tidak menciptakan alam semesta untuk menunjukkan citra kesempurnaan-Nya, namun kepada manusialah Dia mengamanatkan citra kesempurnaan-Nya itu. Artinya, kita lah yang menentukan bentuk alam semesta ini sehingga seperti apa yang kita lihat dan kita rasakan saat ini.”

“Kewajaran Matahari adalah menerangi dengan adanya dan menggelapkan dengan tiadanya. Kewajaran Angin adalah menafasinya dan melemparkan. Kewajaran Air adalah meminumi dan menenggelamkan. Kewajaran Manusia adalah kesetiaan berjuang me-manage dan mengadilkan takaran cahaya matahari agar menyehatkan, takaran kendali angin agar menyamankan, takaran luas tanah agar menyeimbangkan, serta takaran nyala api agar mematangkan.” ~Muhammad Ainun Nadjib~”

Dec 11
“Siapa saja orang yang cukup gila untuk berpikir bahwa mereka bisa mengubah dunia, berarti mereka adalah orang yang benar-benar mengubah dunia.” -slogan Apple yang berjudul “Think Different”, 1997

“Siapa saja orang yang cukup gila untuk berpikir bahwa mereka bisa mengubah dunia, berarti mereka adalah orang yang benar-benar mengubah dunia.” -slogan Apple yang berjudul “Think Different”, 1997


Dec 10

Makna adalah makna. Bahasa sekedar media untuk menyampaikan makna. Karena itu suatu ungkapan-ungkapan tidaklah bersifat mutlak. Juga tidak bisa mewadahi makna yang sesungguhnya.

Bahasa memunculkan persepsi. Sedangkan persepsi terbentuk dari pengalaman dan wawasan. Maka jika pengalaman dan wawasan kita sempit, persepsi itu pun ikut sempit. Jika kita ingin memperluas dan menyempurnakan persepsi, kita harus memperluas wawasan dan pengalaman, lewat aktifitas konkret sebanyak-banyaknya.